Sahabat Kecilku



Namaku Lathifah Tri Utari. Aku mempunyai sahabat kecil. Mereka adalah Aidha Safitri, Rahayu Aprilia Wulandari, Annisa Sekar Pertiwi, Laily Wahyu Munzila, dan Abigail Widagdo Putri. Umur kami tidak berbeda jauh.
Saat kami kecil, kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Aku bersama dua orang sahabatku yaitu Wulan dan Annisa satu TK. Kami berangkat dan pulang bersama. Diantara kelima sahabatku itu, Aidha lah yang paling tua. Jika dihitung sekarang Aidha sudah kelas XII SMA.
Suatu ketika, saat aku dan sahabat kecilku yang lainnya bermain ditaman dekat rumah kami, aku dan Annisa bermain ayunan. Ditaman itu banyak objek bermain untuk anak-anak seusia kami yang saat itu aku berusia 7 tahun. Saat aku itu aku sedang duduk di ayunan, dan tiba-tiba Annisa mendorongku dari belakang. Lantas aku pun terjatuh dan menangis.
“Annisa jahat!!! Annisa jahat!!!” ucapku sambil menangis. Annisa pun hanya tertawa melihat aku yang jatuh menahan rasa sakit.
“Tadi aku didorong sama Wulan, dan aku gak sengaja nyentuh punggung kamu,” jawab Annisa.
Dan disaat itu juga aku menaruh rasa kesal kepada Annisa. Seketika kamipun bertengkar. Kami bertengkar seperti layaknya anak kecil yang biasa. Dan Annisa pun ikutan menangis. Aku tidak tahu mengapa Annisa menjadi ikutan menangis. Kamipun hanya bisa menangis menanti kehadiran orang tua kami masing-masing.
Dan benar saja. Kedua ibu kami dating, mereka melerai dan menghentikan suara tangisan aku dan Annisa. Dan member syarat, jika aku dan Annisa bermaafan, maka kami akan mendapatkan sebuah ice cream dari ibu kami masing-masing.
“hayo Annisa, mint maaf sama Lathifah. Bilang kamu tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi,” ujar ibunya Annisa.
“Lathifah, aku minta maaf ya. Aku janji, aku gak akan mengulangi kesalahan itu lagi,” kata Annisa sambil menyodorkan tangan kanannya berharap aku kan memaafkan dirinya.
Aku pun hanya mengangguk, yang menandakan bahwa aku memaafkan Annisa. Dan kamipun berpelukan seperti layaknya Teletubbies yang ada di televisi ketika kami masih kecil. Itu adalah salah satu kartun kesukaanku.
Dan setelah kami berpelukan, kamipun mendapat ice cream. Begitu juga dengan Aidha, Laily, dan Abigail. Mereka juga mendapat ice cream dari ibu aku dan Annisa. Agar tidak ada yang merasa iri.
Begitulah. Setiap hari kami selalu bermain bersama. Menghabiskan waktu bersama. Kami seperti kakak beradik kandung. Hingga suatu ketika, salah satu sahabatku mempunyai mainan baru, aku dan sahabatku yang lainnya segera merengek untuk dibelikan mainan yang serupa seperti punya salah satu sahabatku itu. Sehingga kami dapat memainkan mainan itu bersama-sama.
Dulu, kami bermain apa saja. Seperti monopoli, congklak, bekel, lompat karet, petak umpet, masak-masakan, ayunan, rumah-rumahan, hingga membuat karya sni dari sedotan ataupun kertas.
Kini, Aidha sudah tidak tinggal dikomplek perumahan aku lagi. Entah dimana dia sekarang. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Aidha. Wulan dan Annisa. Dia masih menjadi sahabatku. Walupun kami sekarang sudah jarang bermain bersama karena kesibukan kami masing-masing. Begitupun Laily dan Abigail. Laily jarang keluar diluar. Mungkin dia lebih nyaman bermain dirumah bersama kakaknya. Abigail. Dia sudah pindah rumah. Namun, masih satu komplek perumahan dengan aku. Hanya beda blok saja. Meskipun begitu, aku, Annisa, Wulan, dan Laily masih sering mengunjungi rumah-rumah. Masih sering main bersama, walaupun tidak setiap hari ketika kami masih kecil. Ketika kami belum sekolah. Dan ketika kami belum mengerti apa arti sahabat yang sesungguhnya.





0 Kritik, komentar dan saran:

Posting Komentar

 
- / . / .-. / .. / -- / .- //
T E R I M A

-.- / .- / ... / .. / .... //
K A S I H

- / . / .-.. / .- / .... //
T E L A H

-- / . / -. / --. / ..- / -. / .--- / ..- / -. / --. / .. //
M E N G U N J U N G I

-... / .-.. / --- / --. //
B L O G

... / .- / -.-- / .- //
S A Y A