Korea sejak tujuh puluh tahun terbagi dua. Sulit
membayangkan penyatuan kembali kedua
negara Korea. Terutama karena perbedaan
ekonomi sangat besar.
Tahun 2000, Korea masih penuh harapan.
„Sebuah era baru telah dimulai bagi bangsa
kami”, kata Presiden Korea Selatan saat itu, Kim Dae Jung, pada bulan Juni 2000. Ia baru saja
melakukan pertemuan bersejarah dengan
Pimpinan Korea Utara Kim Jong Il di Pyongyang.
Kim Dae Jung melaksanakan”politik sinar matahari” untuk melakukan pendekatan
terhadap Korea Utara.
Karena upayanya, Kim Dae Jung dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian, sama dengan tokoh politik Jerman Willy Brandt, yang melakukan pendekatan pada negara-negara blok Timur.
Kim Dae Jung adalah presiden Korea Selatan
pertama yang menawarkan bantuan ekonomi kepada Korea Utara. Ia tidak meminta imbalan secara langsung.
Ia hanya menegaskan kepada Pyongyang, bahwa pemerintahannya tidak ingin menguasai Korea Utara.
Tujuannya adalah
hubungan kemitraan yang setara antara kedua
negara dalam situasi damai.
Kim Dae Jung ingin mendorong perubahan di
Korea Utara melalui hubungan dagang dan
investasi. ekonomi pasar akan tumbuh dan kelas
menengah akan muncul.
Kemudian Korea Utara
bisa memiliki sistem multi partai seperti di Korea
Selatan, demikian visi Kim Dae Jung.
Tidak Ada Perubahan Besar Kenyataannya, setelah rivalitas selama 40 tahun, Korea Selatan ternyata berkembang pesat meninggalkan Korea Utara jauh di belakang.
Tahun 1990-an blok Timur runtuh dan era perang dingin berakhir. Korea Utara yang dulu menjadi musuh besar, sekarang menjadi negara yang perlu pertolongan.
Berbagai bencana menerpa negara yang tertutup itu. Setelah dilanda musim
kering, terjadi bencana kelaparan.
Korea Selatan menyalurkan bantuan pupuk,
beras dan gandum ke negara saudaranya di
utara. Kedua negara lalu mengambangkan
kawasan pariwisata Kumgang dan kawasan
industri Kaesong. Proyek-proyek ini merupakan
sumber devisa utama bagi Korea Utara.
Tapi tidak terjadi perubahan besar dalam politik Korea Utara. Kim Jong Il tidak melakukan
kunjungan balasan ke Korea Selatan seperti yang dijanjikan. Korea Utara malah meneruskan
program nuklir dan peluru kendalinya.
Presiden Korea Selatan Lee Myung Bak akhirnya
menghentikan bantuan pangan. Sejak itu,
hubungan kedua negara Korea kembali mendingin.
.
Berbeda Dengan Jerman
Situasi perpecahan di Korea berbeda dengan di
Jerman. Antara warga Jerman Barat dan Jerman
Timur dulu masih ada kontak. Warga Jerman
Timur juga bisa menangkap siaran televisi dan radio dari Jerman Barat.
Mereka bisa mendapat
publikasi dan informasi. Jadi mereka punya
bayangan tentang untung ruginya sistem
ekonomi dan politik di Jerman Barat.
Situasi ini sangat berbeda dengan Korea Utara.
Warganya dilarang berhubungan dengan warga Korea Selatan.
Mereka tidak boleh mengikuti siaran dari negara asing. Informasi tentang dunia
luar sangat terbatas.
Kebanyakan warga Korea
Utara tidak tahu sama sekali tentang
perkembangan di Korea Selatan. Pimpinan Korea
Utara selalu menyebarkan ideologi dan retorika
perang. Bagi rakyat Korea Utara, Amerika Serikat
dan Korea Selatan adalah musuh terbesar yang
harus dihadapi dengan kekuatan militer.
Makin sedikit warga Korea Selatan yang percaya
pada peluang penyatuan kembali dengan utara.
Perbedaan antara kedua negara masih terlalu
besar, baik secara politis maupun secara
ekonomis. Jika kedua negara bersatu, beban
ekonomi yang harus ditanggung Korea Selatan
sangat besar. Tapi dulu, tidak ada juga yang
menyangka proses penyatuan Jerman Barat dan Timur akan berlangsung demikian cepat.
_____________________________________
AIR SUSU DI BALAS DENGAN AIR TUBA!!!
Bukan korea selatan tak ingin berdamai dengan korea utara , tapi korea utara yang gak mau berdamai dengan korea selatan,padahal niat baik korea selatan yang ingin memakmurkan kedua korea malah di balas dengan air tuba oleh korea utara


0 Kritik, komentar dan saran:
Posting Komentar